Bisakah Gen Z Survive Menjadi Leadership, Kalau Kerjanya Cuma Healing dan Rebahan?
![]() |
| Foto: Instagram/@tedy_syahlan28 |
Citizen Mahasiswa, Marpoyan-Peradaban revolusi teknologi digital menjadikan Gen Z sasaran empuk, untuk mereka menerima segala bentuk potensi brending digital yang berkembang pada abad 20 ini.
Menghadirkan berbagai ruang kemudahan akan kebutuhan, informasi, hiburan, sosial, bahkan privasi tanpa filterisasi, pada akhirnya Gen Z mengalami Krisis kehilangan identitas.
Hah, kok bisa? Inilah penyakit psikologi yang diperkenalkan Alvin Toffler dari bukunya Future Shock (1970).
Menurutnya, Future Shock merupakan stres yang dialami pada individu, sebab adanya perubahan-perubahan terjadi dalam waktu yang singkat.
Prediksi puluhan tahun lalu itu, sekarang dialami Gen Z.
Oleh sebab itu, pada acara podcast UIR Unggul almarhum Dr. Abdul Aziz, M.Si (2020) menanggapi pendapat Alvin Toffler, bahwa Fikom harus bisa menjawab tantangan-tantangan perubahan yang terjadi di ranah teknologi informasi dan komunikasi.
Sejak 21 mei 2021 berlalu, Fikom UIR sudah mengembangan penelitian dan pembelajaran berbasis digital.
Melalui forum seminar yang bertajuk 'Fostering Effective Gen Z Leadership' Muhammad Ichsan mengatakan "Gen Z terancam mengalami krisis jati diri, karena terpapar berbagai perkembangan konten media.
"Melimpahnya informasi membuat Gen-Z menjadi generasi yang kaya akan informasi, namun secara bersamaan ada kecenderungan mengalami disorientasi untuk menentukan arah hidupnya. Mereka memiliki pandangan yang global."
"Tentu kita tidak ingin memiliki anak-anak muda dan calon pemimpin masa depan yang krisis identitas. Gen-Z harus bisa menentukan prioritas untuk meraih cita-cita atau tujuan apapun yang ingin dicapainya." jawab Muhammad Ichsan, saat diwawancari Cetizen Mahasiswa.

Komentar
Posting Komentar