Budaya Kritis Mahasiswa Abad 20an dalam Bertanya di Kelas





Teman-teman merasakan hal yang berbeda Ngak, dengan sistem perkuliahan sekarang, setelah kembalinya ke Kampus pasca Pandemi Covid-19?

Itu karena, penerapan Sistem Belajar di Indonesia saat ini berorentasi pada Student Centered Learning, yaitu proses belajar berpusat dari Mahasiswa. 

Apakah ini beban, atau Metode baru bagi Mahasiswa untuk meningkatkan kualitas dalam belajar? Telusuri Artikel ini sampai selesai! 

Karena terbiasa mudah mendapatkan informasi dari mesin pencarian Google, dan Sosial Media membuat Critical Thinking (Berpikir Kritis) Mahasiswa, dalam mengolah informasi tidak terlatih lagi, saat proses belajar. Pernyataan ini menekankan pada aspek menurunnya rasa ingin tahu dan daya tarik belajar Mahasiswa. 

Terpaan Informasi yang dihadirkan dalam ruang Digital tersebut bersifat tranparan dan terbuka, baik itu arahnya Positif atau Negatif, sehingga sering kali pesan yang ditangkap Mahasiswa tanpa proses Analytical Thinking yang panjang dalam memilah dan memilih asupan informasi yang dapat diterima akal sehat. 

Kemudahan tersebut, mendoktrin mereka seperti kalimat yang sering kita dengar, "Buat apa mikir, Googling aja!" Konsep berfikir demikian harus disadari dini oleh Mahasiswa. Sebab kata Ibu Fitri Hardianti M.I.Kom ini akan berimbas pada proses belajar Mahasiswa. Ia cendrung menerima informasi tanpa filteritasi atau melakukan perbandingan informasi dari sumber-sumber lain. 

Sehingga timbullah Prinsip, "Saya hanya mau dengar, apa yang ingin saya dengar!" Inilah sistem belajar yang dianut kebanyakan Mahasiswa sekarang. Aspek membosankan ketika materi perkulihan yang dipaparkan, mereka memilih bercerita dengan suara bisik-bisik, ketawa, usil atau (tukar informasi). Ketika Pemateri meminta bertanya, atau inisiatif untuk bertanya, kelas menjadi sepi. Kalaupun ada, hanya bersifat formalitas saja.


Dilihat dari sisi Generasi, Generasi Z & generasi Digital Netive (generasi yang hidup di abad 20an) umumnya, memiliki pengetahuan luas, karena semakin berkembang pesatnya informasi saat ini, yang mudah di akses. 

Keberanian dalam diri Mahasiswa sering tidak muncul di kelas, akhir ini setelah perubahan prilaku manusia pasca Pandemi Covid 19. Meskipun dalam kepalanya terdapat banyak pertanyaan, tetapi terhalang rasa takut pada respon Negatif, seperti pertanyaan dianggap basi, Justifikasi yang dapat membunuh karakternya atau rasa sungkan terhadap teman lain karena akan memperpanjang durasi perkuliahan

Rasa enggan demikianlah yang menjadi kebiasaan (Habbit) di tengah Mahasiswa saat ini. 

Padahal bertanya dalam kelas adalah Hak sebagai Mahasiswa. Terlepas untuk memenuhi penilaian plus dari Dosen, ada hal yang paling penting dari itu yaitu Haus Vaditas Informasi.

Berkaca pada generasi Mahasiswa angkatan 90an lalu. Mereka dulu, rela mengabiskan waktu di toko-toko buku atau sekedar mengantri meminjam buku di Perpustakaan Kampus, untuk mengulik topik yang diberikan Dosen pada pertemuan sebelumnya. Selain itu juga, mereka rela patungan  menyisihkan uang untuk menyambangi Warnet, dalam mencari sumber yang relevan, Blog, dan sejenisnya. 

Dari rasa ingin tau dan daya tarik belajar itu, tumbuh menjadi Mahasiswa yang mandiri dan disiplin ilmu, serta haus akan validitas informasi. Sehingga pada saat proses belajar dan diskusi di kelas, mereka menjadi Interaktif. Karena masing-masing dari mahasiswa tersebut, menyampaikan pendapat. 

Tidak seperti yang dikeluhkan oleh Bapak Dr. Yudi Daherman, S.I.Kom, M.I.Kom Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi pada saat menggambarkan mahasiswa/i saat ini terkait minat belajar Mahasiswa. 

Dalam prakteknya, problematika yang muncul adalah menurunnya semangat berkompetisi di Kelas. Terutama pada materi yang rumit, dan pasifnya budaya bertanya di kelas. Menjadikan suasana belajar kembali pada rules awal yaitu Teacher Centered Learning (pusat pembelajaran berfokus pada pemaparan materi dari guru). 

Hal Ini terjadi bukan tanpa sebab, pada satu kesempatan Tedy berdiskusi dengan Dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi, Ibu Idawati, M.I.Kom, beliau konsentrasi pada keilmuan komunikasi profesional yaitu Public Speaking, mengungkapkan bahwa mahasiswa-mahasiswa yang biasanya sering bertanya, aktif belajar di kelas dari semester satu, mulai berubah semangat belajarnya di semester tiga, empat, lima, dan enam.  

Beliau menegaskan adanya budaya komunikasi antarpersonal diantara mereka, yang terjadi persepsi perasaan rasa bersalah, rasa tidak enakan, berdasarkan dari pemikiran Grupthink hingga efeknya membuat Mahasiswa tersebut enggan bertanya. 

Komentar